Hari ini tepat satu tahun kematian Fendy. Makamnya berbau harum karena baru ditaburi bunga segar. Suasana pemakaman setempat saatlah sepi karena masih pagi dan kabutpun belum ingin meninggalkan dunia pagi yang mendung ini. Menambah kesepian hati Ingga.
“Ya, kamu sudah ninggalin aku satu tahun Fen, kamu jahat!” ucapnya di sela isak tangisnya.
Ingga sengaja datang ke makam Fendy pagi – pagi. Ia melakukan ini karena ingin merasakan kebersamaan antara Ingga dan Fendy. Ya walaupun Ingga tahu bahwa Fendy tak akan datang dalam wujud nyata.
Sebuah rahasia besar telah disembunyikan Ingga dari Fendy setahun sebelum kematian Fendy. Ternyata Ingga sudah mengidap penyakit kanker payudara stadium 2. Memang Ingga sudah merasakannya sudah sejak lama tetapi Ingga baru memeriksakannya sekitar lima bulan yang lalu.
“Fen, kayanya aku akan segera menyusul kamu deh. Maaf ya aku nggak cerita sama kamu tentang penyakitku ini. Aku akan segera menyusul kamu dan bunda.” Ucap Ingga dikeheningan pagi.
Hari semakin senja. Matahari pun mulai condong ke arah barat, bersiap menghilang dari langit yang kian merubah warnanya. Perubahan warna langit yang membawa ketentraman di hati orang yang memandang.
Di tengah keramaian alun – alun yang masih direnovasi itu, duduklah seorang pemuda dengan pakain putih abu – abu di bawah pohon Beringin. Digulung setengah lengan bajunya dan di dada kanannya tertulis nama Fendy Sillalahi.
Sudah satu setengah jam ia duduk di bawah pohon Beringin yang sangat rindang itu. Tetapi apa yang ia nanti tak kunjung datang juga. Ketika ia memutuskan untuk pulang, terdengar teriakan sorang gadis memanggil namanya.
“Fen, Fendy!! Tunggu dulu, jangan pulang dulu”
“Akhirnya kamu datang juga Ngga. Aku udah nunggu kamu hampir dua jam tahu!”
“Ya maaflah, aku tadi ada kerja kelompok, jadi telat dech ketemu sama kamu, maaf ya?”
“Ya dech nggak apa – apa. Besok kita jadikan lari – lari pagi?”
“Ya jadi, jam 5.15 WIB kita ketemu di sini ya, inget di bawah pohon Beringin ini. Jangan sampai salah!! Ya udah aku pulang dulu ya, dah sore nih. Bye.. “
“Iya, tenang aja, aku bakal inget kok. Bye, hati – hati di jalan.. “
Matahari belum terbit, kabut pun masih menyelimuti bumi di mana mahkluk hidup berpijak. Orang – orang akan enggak untuk keluar dengan kabut yang setebal kaca, hanya orang – orang yang ingin menikmati udara segar yang akan keluar dari hangatnya selimut berbahan wol.
Tepat di bawah pohon Beringan itu, Fendy telah menunggu Ingga untuk lari pagi bersama. Setelah beberapa menit Fendy menunggu, akhirnya Ingga datang. Tanpa basa – basi mereka langsung berlari sekaligus menghangatkan badan dengan cara menghasilkan keringat.
Setelah empat putaran, mereka berhenti untuk istirahat sejenak. Di sela – sela waktu istirahat mereka saling bercerita tentang pengalaman yang ada di SMA. Memang mereka bersekolah di SMA yang berbeda dan sudah sejak SMP mereka berteman. Perlahan tetapi pasti matahari mulai muncul dari timur dan siap menyinari kehidupan di bumi ini. Fendy dan Ingga pun berpisah untuk kembali ke rumah masing – masing.
Di perjalanan pulang, tanpa sepengetahuan Ingga Fendy tengah merencanakan surprise untuk ulang tahun Ingga yang ke – 16. Ia akan membawa Ingga ke tempat di mana Ingga akan merasa senang dan bahagia.
Sepulang sekolah, Fendy cepat – cepat untuk pulang ke rumah. Karena hari ini adalah hari ulang tahun Ingga. Ia sengaja tidak sms ataupun telepon ke Ingga seperti hari biasanya. Ia pun mengabarkan akan ke rumah Ingga pada hari kemarin. Ia sangat merahasiakan semua rencananya dari Ingga.
Kado ini sangat spesial karena kado ini merupakan hal yang sangat diinginkan oleh Ingga. Yaitu sebuah rangkain bermacam bunga kering yang sudah dimasukkan ke kotak kaca dengan hiasan yang berupa ornamen. Karangan bunga tersebut Fendy sendirilah yang merangkai dan mengumpulkan berbagai macam bunga lalu ia keringkan. Saat Fendy asyik membungkus kado untuk Ingga, tiba – tiba kepalanya berdenyut sangat kencang dan ia merasa semua yang ada di sekelilingnya serasa berputar. Sejenak ia berhenti untuk meredakan rasa pusing yang sangat mengganggunya tetapi, ia tetap menyelesaikan membungkus kado ulang tahun Ingga demi cintanya terhadap Ingga.
Tak sedikitpun Fendy mengurunkan niatnya untuk membuat kejutan bagi Ingga walaupun sakit kepala yang terus menyiksanya karena ia merasa inilah waktu yang paling tetap untuk mengungkapkan cintanya terhadap Ingga di akhir hidupnya. Ia ingin Ingga tahu betapa ia mencintai Ingga sejak SMP.
Orang tua Ingga sudah mengetahui kedekatan antara Ingga dengan Fendy dan orang tua Ingga tak pernah mempermasalahkan kedekatan mereka. Bahkan diam – diam mereka merestui kedeketan anak mereka dengan Fendy tetapi baik orang tua Ingga dan Ingga tak mengetahui penyakit kanker otak yang diderita Fendy.
Langit malam ini sangatlah indah. Langit biru kehitam – hitaman yang benderang ditebari dengan jutaan bintang dan sebuah bulan yang menggantung dengan anggunnya. Di bawah langit biru kehitam – hitaman ini terdapat dua insan manusia yang sedang merasakan kebahagian yang tiada tara. Ingga sangat senang mendapat hadiah dari Fendy. Bukan hanya karena hadiah yang diberikan oleh Fendy tetapi cinta yang begitu indah yanng timbul diantara mereka berdualah yang membuat wajah mereka berseri – seri diselubungi kebahagiaan. Di tengah kebahagiaan mereka, tiba – tiba Fendy mengerang kesakitan. Ingga pun kebingunan karena ia tidak mengetahui kenapa Fendy mengerang kesakitan begitu. Di sela – sela kesakitan yang Fendy alami, ia sempat mengatakan kepada Ingga untuk tidak menangis dan menyesalai apa yang telah terjadi karena semua ini adalah karunia Allah SWT. Tak kuat menahan sakit yang terus mendera akhirnya Fendy pun pingsan.
Ruanngan itu berwarna putih dan aromanya menandakan kematian dan kesengsaraan. Tak banyak yang dapat orang lakukan jika terbaring didalamnya. Begitupula Fendy, ia tidak dapat melakukan apa – apa selain berbaring menunggu keajaiban ataupu mukzizat yang akan diberikan Tuhan kepadanya.
Keluarga Fendy silih berganti menungguinya. Ketika Mamanya yang menunggui, Fendy pun menceritakan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
“Ma, Mama tahu kan kalau aku pacaran sama Ingga?”
“Ya sayang Mama tau itu kok. Emangnya kenapa? Papa juga sudah tahu dan kami berdua merestui hubungan kalian. Lagipula keluarga kita juga dekat dengan keluarga Ingga.”
“Justru itu Ma masalahnya. Mama tau kan waktu Fendy sudah nggak banyak lagi, Fendy nggak mau ngebuat harapan kosong kaya gini ke Ingga dan juga keluarganya.”
“Sayang, di dunia ini nggak ada satu orang pun yang tahu kapan ia akan dipanggil oleh Allah SWT. Jadi kamu jangan memvonis diri kamu sendiri kalau waktu kamu sudah tidak lama lagi.”
“Ya Ma, Fendy percaya itu kok. Fendy minta tolong boleh kan Ma? Tolong jangan kasih tahu ke Ingga kalau Fendy sudah sakit kanker otak stadium 3. Janji ya Ma?”
Sedang asyiknya Fendy dan Mamanya mengobrol, terdengar suara pintu diketuk. Ternyata Ingga yang datang. Mamanya pun permisi untuk melaksanakan sholat. Setelah Mamanya Fendy keluar dari kamar, tiba – tiba kemarahan Ingga meledak. Ia merasa dibohongi oleh Fendy atas apa yang selama ini Fendy alami. Tentang penyakit yang dideritanya.
“Kamu jahat Fen. Kenapa kamu nggak cerita dari dulu tentang penyakit kanker otak yang kamu derita??”
“Maaf Ngga, bukannya aku nggak mau cerita sama kamu, aku nggak mau ngerusak kebahagiaan kamu. Aku nggak mau ngeliat senyum manismu hilang dari wajah lembutmu..”
“Kenapa kamu bisa berpikiran kaya gitu sih Fen? Apa kamu bakalan ngerasa dikasihani sama aku kalau aku tau kamu sakit kanker otak? Ya sudahlah sekarang kamu harus janji sama aku bahwa kamu sanggup bertahan buat ngelawan sakit kamu ini. Janji ya Fen?”
“Ya Ngga, aku janji sama kamu aku bakalan nemenin kamu setiap hari setelah sakitku ini sembuh (tapi mungkin itu nggak akan terjadi karena sakit aku terlalu parah Ngga)”
“Ya sudah aku pamit pulang dulu ya, sudah sore belum mandi. Hehehehe..... “
Sepeninggalan Ingga, Fendy merasakan sakit kepala yang sangat menyiksanya. Kepalanya serasa akan pecah dan ia merasa sudah tidak kuat untuk menahan rasa sakit ini semua.
“Aaaarrrrrrgggghhhhhhhhh..... Ma, kepala Fendy sakit banget, Fendy sudah nggak kuat nahan ini semua Ma.. “
“Ya sayang, sabar dulu ya biar Mama panggilkan dokter. Kamu tahan dulu ya Mama percaya kamu kuat menghadapi ini semua.”
Mama Fendy pun segera mencari dokter. Sementara itu, Fendy masih meraung – raung kesakitan. Tak berapa lama Mama Fendy dan dokter tiba. Dokter itu masuk ke kamar dan memberi Fendy obat peredam sakit dan obat tidur. Setelah Fendy tertidur dokter itu mengatakan kepada Mama Fendy bahwa kemungkinan Fendy selamat sangatlah kecil dan kita hanya bisa mendoakan semoga Allah SWT memberikan mukzizat kepada Fendy.
Keheninganpun terasa hanya isak tangis dan jeritan yang terdengar. Tangis dan jeritan pun mengiringi kepergian Fendy. Memang terasa begitu cepat kepergian Fendy, tetapi ini semua memang kehendak Allah SWT.
”Semua mahkluk hidup di dunia akan mati jadi kita memang harus siap dan merelakannya. Sulit memang untuk dapat merelakan Fendy tetapi kita tetap harus merelakannya untuk kembali di sisi-Nya. Sekarang kita berdoa saja semoga amal dan ibadah Fendy diterima oleh Allah SWT.” Ujar Papa Fendy.
Di rumah Fendy sudah ramai orang yang melayat. Semua mengucap bela sungkawa kepada keluarga Fendy. Tak hanya tetangga dan teman – teman Fendy tetapi guru – guru dan kenalan Fendy semua datang untuk memberikan penghormatan terakhir. Menurut mereka, Fendy merupakan pribadi yang santun dan sopan selain itu dia juga sangat menyenangkan.tetapi kini hanya kenangan yang akan tersisa tentang kepribadian Fendy yang menyenangkan.
Jenazah Fendy sudah dimandikan dan disholati. Jenazah sudah siap untuk dikebumikan.Sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman, Mama Fendy memberi Ingga sebuah kotak yang tertutup rapat. Kata Mama Ingga itu kotak dari Fendy untuk Ingga.
Jenazah Fendy akan segera dikebumikan. Semua pelayat berangsur – angsur meninggalkan rumah Fendy tetapi tak begitu dengan teman – teman Fendy dan Ingga. Ingga berusaha untuk tidak menitikkan air mata karena ia ingat pesan Fendy untuk tidak menangis di waktu kepergiannya.
“Fen, gimana aku akan sanggup buat nggak nangis kalo kamu ninggalin aku buat selamanya?” ucap Ingga pada dirinya.
Ingga memutuskan akan ikut pemakaman Fendy. Ia ingin melihat Fendy untuk yang terakhir kalinya.
Setelah Fendy dimasukkan ke liang lahat, Ingga melemparkan serangkai bunga sebelum jenazah Fendy ditutup tanah. Ia melemparkan bunga itu untuk menemaninya di kegelapan timbunan tanah.
“Fen, kamu yang tenang yang di sana inget aku selalu ya? Aku nggak akan ngelupain saat – saat bersamamu. Aku akan selalu mendoakan kamu semoga kamu bahagia di sana dan satu lagi, tunggu aku di sana ya, kita akan bersama untuk selamanya” ujar Ingga.
Ingga duduk di kamar seorang diri. Ia sedang mengenang masa – masa bersama dengan Fendy. Dari mereka SMP sampai saat Fendy meninggal. Tiba – tiba Ingga loncat dari kursi dan mengambil kotak yang tadi diberikan oleh Mama Fendy. Setelah dibuka ternyata isinya sebuah surat dan sebuah buku harian. Ingga lalu membaca surat itu setelah selesai membaca Ingga lalu membuka halaman pertama buku harian itu. Di halaman pertama tertulis “Bacalah satu – persatu halaman dan resapi apa makna yang ada di setiap lembaran itu dan bacalah satu halaman setiap harinya”. Membaca itu Ingga lalu tersenyum.
“Hemm, kamu emang punya cara tersendiri buat nyenengin hati aku ya Fen..”
Ingga masih saja tersenyum memandang buku harian dan surat itu. Diselipkannya surat itu kedalam buku harian itu. Ia akan menyimpan itu semua sebagai hadiah dan kenangan terindah dari Fendy. Sesaat Ingga merasakan nyeri di bagian payudara dan disekitar pinggangnya tetapi, ia tidak menghiraukannya karena ia merasa sangat bahagia mendapat kotak yang penuh kehidupan dari Fendy. Selesai membaca halaman pertama, Ingga memutuskan untuk tidur karena mengantuk dan sambil tertidur ia memeluk buku harian itu dengan erat dan sangat hangat.